(telah dimuat di Tribun Jabar edisi Senin 9 Maret 2009)
“Elok rupanya pohon belimbing, tumbuh dekat pohon mangga. Elok rupanya berbini sumbing, walau ia marah tampak ketawa juga.”
Demikian bunyi sebuah pantun jenaka yang saya hapal betul sejak saya duduk di SD. Ternyata, (maaf) berbibir sumbing saja punya faedah filosofis. Bunyi kata kunci “Bini” itulah, yang menghubungkan bunyi pantun itu dengan otak ceriwis saya tentang ITB (Institut Teknologi Bandung). Dalam guyonan di warung-warung kopi, ITB sering dipelesetan oleh para alumninya sendiri sebagai singkatan dari (maaf) “Insinyur Takut Bini” kalau bukan “Institut Teknologi Berkuda” (hanya karena Jalan Ganesha dan sekitarnya sering dijadikan mainan anak-anak menunggang kuda). Tapi juga, ITB tak jarang dipelesetkan oleh sementara alumninya di facebook.com menjadi MIT, yang sejatinya adalah Massachussetts Institute of Technology. Tapi yang dimaksud pelesetan adalah “mBandung Institute of Technology”. Maksud si pemeleset supaya lebih bergengsi begitu, lho. Maklum, MIT hampir selalu masuk sebagai 10 universitas terbaik dunia, sedangkan ITB (atau universitas lainnya di negeri kita) rasa-rasanya belum pernah sekalipun masuk 100 universitas terbaik dunia.
Alhasil, sebetulnya ITB itu seperti Persib, hanya jago kanndang, yang tidak pernah menjadi klub papan atas dunia, bahkan di level Asia. Maklum, kalau MIT di dunia perguruan tinggi atau Manchester United di dunia persepakbolaan itu sudah cukup umur dan karenanya punya tradisi kuat need for achievement alias berorientasi prestasi pada skala global, sedangkan ITB atau Persib masih mencerminkan “keindonesiaan” asli yaitu need for basic needs alias masih berorientasi pemenuhan kebutuhan dasar. Beda dengan di Malysia atau India, walau perguruan-perguruan tinggi di sana juga relatif belum cukup umur, tetapi kalau saya tidak salah ingat, beberapa di antaranya sudah ada yang masuk sebagai 100 universitas terbaik dunia. ITB itu hanya menang megah bangunannya saja dari perguruan-perguruan tinggi di Malysia atau India.
Lalu apa urusannya dengan kado untuk ulang tahun emas ITB yang akan diisi dengan berbagai kado dan acara berfaedah pula pada tanggal 2-7 Maret 2009 ini di kampusnya? Yang jelas “kado” dari Pa Aburizal Bakrie dan Pa Arifin Panigoro saja sudah bernilai Rp 50 Milyar! Soal acara, untunglah acara pemberian gelar Doktor Kehormatan (Dr Hc) ITB kepada Pa SBY dikeluarkan dari agenda perayaan ulang tahun emas ITB (usia 50 tahun), karena konon Pa SBY kurang enak hati bila itu diterima sebelum acara Pilpres 6 Juli nanti. Lagian, saya sebagai ulumninya pun kok risi, jangan-jangan ITB benar-benar wajar untuk dipelesetkan sebagai “Institut Teknologi Berkuda”.
Kembali ke soal kado. Saya kira, salah satu kado yang pas untuk kita berikan kepada ITB saat ulang tahun emasnya adalah ramuan dari pujian dan kritikan secara seimbang. Pertama, pujian patut diberikan kepada ITB yang selalu masuk 5 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. ITB pula yang terbanyak menghasilkan alumninya yang jadi Presiden RI, yakni Bung Karno dan Pak Habibie. ITB juga satu-satunya Institut Teknologi di Indonesia yang berani buka fakultas/sekolah bisnis dan manajemen (SBM). Kalau di Amerika Serikat sih sudah lama yaitu MIT. Terus, ITB juga yang konon alumninya paling banyak diserap di pasar kerja Malaysia dan Negara-negara di Timur Tengah bila dibandingkan dengan alumni perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Dan seterusnya.
Kedua, soal kritik membangun kita. ITB sekarang terkenal dengan mahalnya uang bangunan yang dikenakan kepada mahasiswa baru yang diterima melalui seleksi khusus bernama Ujian Saringan Masuk (USM) ITB. Untuk mahasiswa baru fakultas/sekolah bisnis dan manajemen (SBM), misalnya, konon Rp 60 juta rupiah. Tidak mengherankan kalau kini ITB yang hanya menyisakan sekitar 30% kuota jumlah mahasiswa barunya melalui jalur seleksi regular (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri/SNMPTN), itu dirasakan tidak lagi pro rakyat kebanyakan alias kurang merakyat. Dan kritik ini mungkin akan lebih meruncing sebentar lagi saat ITB berubah status dari BHMN (Badan Hukum Milik Negara sejak tahun 2000) menjadi PT BHPN (Badan Hukum Pendidikan Negeri berdasarkan UU No. 9 Tahun 2009). Tapi bagaimana bisa kita memimpikan ITB seperti ITB dulu yang murah-meriah?
Jawabannya adalah, sangat “bisa” tapi dalam konteks yang agak berbeda! Mengingat persepsi masyarakat bahwa ITB sekarang itu mahal atau tak lagi berpihak wong cilik, itu tentulah yang dimaksud adalah pendidikan strata satu (S1) dan bukan program pascasarjana. Dan bahwa kita yang meributkan mahalnya biaya pendidikan d ITB sekarang tentunya adalah kita sebagai orang tua yang belum tergolong bukan “kelas menengah” secara ekonomi. Sebab biaya pendidikan program pascasarjana sih sangat wajar bila mahal, dan segmen pasarnya juga sudah pasti masyarakat “kelas menengah atas” kalau bukan masyarakat “kelas bawah” yang memperoleh beasiswa penuh dari sponsor seperti yang saya alami dulu dua kali.
Maka solusinya, dan sekaligus merupakan berkah dari banjir kritikan ini adalah, ITB (juga UI, UGM, IPB dan Undip) sebaiknya tidak lagi memproduksi sarjana alias program Strata Satu (S1), melainkan cukup hanya memproduksi master dan doktor alias program pascasarjana. Sedangkan penyelenggaraan pendidikan S1 sebaiknya diikhlaskan saja kepada perguruan-perguruan tinggi (maaf) “kelas dua”. Demikian seterusnya, sebaiknya program Diploma Tiga (D3) tidak perlu dieksploitasi secara komersial oleh peruruan-perguruan tinggi “kelas dua”, melainkan selayaknya diikhlaskan saja untuk diberikan sebagai garapan perguruan-perguruan tinggi “kelas tiga”. Dalam hal ini saya tidak membedakan PTN dan PTS.
Hikmah yang paling mungkin dari solusi tersebut adalah ITB dan keempat PT yang menurut saya masuk sebagai PT “kelas satu” tadi, bisa mengejar cita-cita terluhur dari dunia pendidikan tinggi yaitu sebagai Research University atau sebagai Center of Excellence, yang mengutamakan produksi master dan doctor serta aktivitas riset bagi para civitas akademiknya. Bukankah sejak tahun 1970-an ITB dan UI, misalnya, telah mencanangkan diri menjadi Research University atau sebagai Center of Excellence? Untuk melanjutkan cita-citanya etrsebut, paling tidak ITB harus sudah berani untuk semakin mengurangi porsi penyelenggaraan pendidikan program S1, sebaliknya porsi penyelenggaraan pascasarjananya harus semakin menjadi dominan sebelum akhirnya hanya memproduksi pascasarjana.
Hikmah lainnya dari ITB (dan keempat PT lainnya yang “kelas satu” itu) hanya menggarap segmen pasar pendidikan tinggi pascasarjana adalah membantu terciptanya persaingan sehat antarperguruan tinggi dalam meraih mahasiswa baru (dan uangnya). Lagian, ITB (dan keempat PTN lainnya itu) menurut hemat saya tidak akan bisa lagi “mengefisienkan biaya produksi” program S1 dengan cara tidak mengomersialkan program S1, karena konsumsi ITB (dan keempat PT lainnya itu) sudah terlalu tinggi, konon rencana anggaran biaya tahunan ITB (atau empat PT lainnya itu) sudah mencapai di atas 500 milyar rupiah.
Jadi, sebaiknya salah satu bentuk kado yang pas untuk kita berikan kepada ITB kali ini adalah mengingatkan kembali ITB untuk need for achievement (pengutamaan motif berprestasi) menjadi Universitas Riset atau Center of Excellence di Indonesia, yang masih sangat membutuhkan baik kuantitas maupun kualitas periset.***